Kerajaan Bali – Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas

Kerajaan Bali adalah kata buat serangkaian kerajaan Hindu-Budha yg pernah memerintah di Bali, di Kepulauan Sunda Kecil, Indonesia. Adapun kerajaan-kerajaan tersebut terbagi pada beberapa masa sinkron dinasti yg memerintah waktu itu. Dengan sejarah kerajaan asli Bali yang terbentang dari awal abad ke-10 hingga awal abad ke-20, kerajaan Bali memberitahuakn budaya istana Bali yang luhur, pada mana unsur-unsur spiritual penghormatan pada arwah leluhur dikombinasikan menggunakan pengaruh ajaran Hindu, yang diadopsi menurut India melalui perantara Jawa antik, berkembang, memperkaya, dan menciptakan budaya Bali.

Lantaran kedekatan & interaksi budaya yg erat dengan pulau Jawa yang berdekatan selama periode Hindu-Budha Indonesia, sejarah Kerajaan Bali acapkali terjalin dan sangat ditentukan oleh kerajaan di Jawa, menurut kerajaan Medang dalam abad ke-9 hingga ke kerajaan Majapahit dalam abad ke-13 sampai 15. Budaya, bahasa, seni, dan arsitektur pada pulau Bali dipengaruhi oleh Jawa. Pengaruh & kehadiran orang Jawa semakin bertenaga dengan jatuhnya kerajaan Majapahit dalam akhir abad ke-15. Setelah kekaisaran jatuh di bawah Kesultanan Muslim Demak, sejumlah abdi dalem Hindu, bangsawan, rahib, dan pengrajin, menemukan tempat proteksi di pulau Bali. Akibatnya, Bali menjadi apa yang digambarkan oleh sejarawan Ramesh Chandra Majumdar sebagai benteng terakhir budaya dan peradaban Indo-Jawa. Kerajaan Bali pada abad-abad berikutnya memperluas pengaruhnya ke pulau-pulau tetangga. Kerajaan Gelgel Bali contohnya memperluas dampak mereka ke wilayah Blambangan di ujung timur Jawa, pulau tetangga Lombok, sampai bagian barat pulau Sumbawa, ad interim Karangasem mendirikan kekuasaan mereka di Lombok Barat dalam periode selanjutnya.

Sejak pertengahan abad ke-19, negara kolonial Hindia Belanda mulai terlibat pada Bali, waktu mereka meluncurkan kampanye mereka melawan kerajaan kecil Bali satu per satu. Pada awal abad ke-20, Belanda sudah menaklukkan Bali lantaran kerajaan-kerajaan miniini jatuh di bawah kendali mereka, baik menggunakan kekerasan atau dengan pertempuran, diikuti dengan ritual massal bunuh diri, atau menyerah menggunakan damai pada Belanda. Dengan istilah lain, meskipun beberapa penerus kerajaan Bali masih hidup, insiden-peristiwa ini mengakhiri masa kerajaan independen asli Bali, lantaran pemerintah wilayah berubah sebagai pemerintahan kolonial Belanda, dan lalu pemerintah Bali di dalam sunting asal]

Sumber yg relatif penting mengenai Kerajaan Bali merupakan prasasti yang berangka 881 M. Bahasa yg digunakan merupakan Bahasa Bali Kuno. Ada jua prasasti yg tertulis dalam bahasa Sanskerta. Pada abad ke-11, telah terdapat liputan menurut Tiongkok yang mengungkapkan tentang tanah Po-Li (Bali). Berita Tiongkok itu mengungkapkan bahwa tata cara norma penduduk pada tanah Po-Li hampir sama menggunakan wargaHo-ling(Kalingga). Penduduknya menulis di atas daun lontar. Jika orang meninggal, mulutnya di masukan emas lalu dibakar. Adat semacam ini masih berlangsung pada Bali. Adat itu dinamakan Ngaben. Salah satu keluarga terkenal yang memerintah Bali adalah Wangsa Warmadewa. Hal itu dapat diketahui menurut Prasasti Blanjong berangka 914 ditemukan pada Desa Blanjong, dekat Sanur, Denpasar, Bali. Tulisannya bertulisan Nagari (India), dan sebagian berbahasa Sanskerta. Diberitakan bahwa raja yang memerintah adalah Raja Khesari Warmadewa. Pada tahun 915, Raja Khesari Warmadewa digantikan oleh Ugrasena.Kerajaan Bali Dwipa (kerajaan awal)[sunting sumber]

Stupika yg berisi tablet nazar Buddha, Bali abad ke-8. Stupa berbentuk lonceng mirip menggunakan seni Budha Jawa Tengah.

Bali sudah dihuni sang manusia sejak zaman Paleolitik (1 SM ke 200.000 SM), dibuktikan sang penemuan alat kuno seperti kapak tangan di desa Sembiran dan desa Trunyan pada Bali.[1][dua] Diikuti oleh periode Mesolitik (200.000-tiga.000 SM); nenek moyang penduduk Bali waktu ini mencapai pulau itu kurang lebih 3000 hingga 600 SM selama periode Neolitikum, ditandai menggunakan teknologi penanaman padi & berbicara bahasa Austronesia. Periode Zaman Perunggu mengikuti, menurut kurang lebih 600 SM sampai 800 M.

Periode sejarah di Bali dimulai kurang lebih abad ke-8 M, ditandai menggunakan ditemukannya prasasti nazar Buddhis tertulis yang terbuat berdasarkan tanah lempung. Tablet nazar Buddha, yang ditemukan pada patung-patung stupa tanah liat kecil yg diklaim “stupika”, adalah prasasti tertulis pertama yg diketahui di Bali dan dari berdasarkan kurang lebih abad ke-8 M.[1] Stupika lainnya semacam itu telah ditemukan di Kabupaten Gianyar, pada desa Pejeng, Tatiapi, & Blahbatuh.[1] Loka-lava berbentuk lonceng mirip dengan gaya stupa abad ke-8 seni Buddha Jawa Tengah yg ditemukan pada Borobudur & candi-candi Budha lainnya yang asal dari periode itu, yang menunjukkan interaksi Sailendra menggunakan para peziarah Budha atau penduduk sejarah awal Bali.

Pada awal abad ke-10, Sri Kesari Warmadewa menciptakan prasasti pilar Belanjong yang ditemukan pada dekat jalur selatan pantai Sanur. Itu merupakan goresan pena tertua yang dibentuk sang penguasa yg ditemukan pada Bali. Pilar tersebut bertanggal sesuai menggunakan kalender Saka India, dalam 836 saka (914 M).[3] Menurut prasasti itu, Sri Kesari adalah seorang raja Buddha berdasarkan Dinasti Syailendra yg memimpin ekspedisi militer,[4] buat mendirikan pemerintahan Buddha Mahayana pada Bali.[5] Dua prasasti lain oleh Kesari dikenal pada pedalaman Bali, yang memperlihatkan perseteruan di pedalaman pegunungan di pulau itu. Sri Kesari dipercaya menjadi pendiri dinasti Warmadewa, penguasa Bali yg diketahui paling awal, yg makmur selama beberapa generasi sebelum perluasan dari pulau Jawa.

Tampaknya, sentra peradaban awal Bali pertama kali terletak pada wilayah Sanur pada sebelah timur kota Denpasar hari ini, dan lalu sentra politik, agama dan budaya pindah ke pedalaman utara, berkelompok di sekitar dataran selatan pada masa sekarang pada Kabupaten Gianyar; lebih tepatnya di pusat kerajaan tua di Bedulu, dekat Goa Gajah dan Gianyar. Kuil gua batu & tempat pemandian Goa Gajah, dekat Ubud di Gianyar, dibentuk lebih kurang periode yg sama. Ini menampakan kombinasi ikonografi Buddha & Hindu Siwa. Beberapa tabrakan stupa, stupikas (stupa mini), & gambar Boddhisattva memberitahuakn bahwa dinasti Warmadewa adalah pelindung Buddhisme Mahayana. Tetapi demikian, agama Hindu pula dipraktikkan pada Bali selama periode ini.Raja menurut Wangsa Warmadewa[sunting sumber]

Raja menurut Wangsa Warmadewa yg pernah memerintah Bali salahsatunya yg terkenal artinya:Sri Candrabhayasingha Warmadewa menciptakan pemandian di Desa Manukaya. Nama pemandian itu merupakan Tirta Empul yang berarti air timbul. Pemandian itu dekat dengan Istana Tampaksiring.Ikatan dengan Kerajaan pada sunting asal]

Ukiran batu pada candi kuil Gunung Kawi menampakan gaya candi serupa Jawa selama periode Medang akhir.

Pada paruh ke 2 abad ke-10, Bali diperintah oleh raja Udayana Warmadewa & ratunya, Mahendradatta, seseorang putri dinasti Isyana menurut Jawa Timur. Mahendradatta adalah putri raja Sri Makutawangsawarddhana, dan saudara wanita raja Dharmawangsa menurut Kerajaan Medang. Kehadiran ratu Jawa pada istana Bali menampakan bahwa kemungkinan Bali telah membangun aliansi dengan Jawa Timur, atau Bali adalah bawahan Jawa; pernikahan mereka merupakan pengaturan politik buat menyegel Bali sebagai bagian menurut wilayah Medang, Jawa Timur. Pasangan kerajaan Bali merupakan orang tua berdasarkan raja Jawa yg terkenal, Airlangga (991-1049). Adik pria Airlangga, Marakata & kemudian Anak Wungçu naik ke tahta orang Bali.

Kuil candi batu menurut Gunung Kawi pada Tampaksiring dibentuk sekitar periode yg sama. Ini menunjukkan gaya candi serupa Jawa selama periode Medang akhir. Dinasti Warmadewa terus memerintah Bali dengan baik sampai abad ke-12 menggunakan masa pemerintahan Jayasakti (1146–50) & Jayapangus (1178–81). Tidak terdapat bukti jelas mengenai kontak menggunakan kekaisaran Cina secara politik selama periode ini tetapi koin Cina yg dianggap kepeng banyak dipakai dalam perekonomian Jawa-Bali. Pada abad ke-12, raja Jayapangus berdasarkan Bali utara diketahui sudah menikahi seseorang perempuanpedagang tiongkok, dan sudah diabadikan melalui bentuk seni Barong Landung menjadi patung raja dan permaisur Cina-nya.

Setelah dinasti Warmadewa, keturunan mereka dan interaksi mereka dengan istana Jawa, tidak terdapat keterangan lebih lanjut yang terus menerus ditemukan mengenai para penguasa Bali. Tampaknya Bali sudah berbagi dinasti asli baru yang relatif independen menurut Jawa.

Pada akhir abad ke-13, Bali sekali lagi timbul pada sumber Jawa seperti pada 1284, raja Kertanegara meluncurkan ekspedisi ofensif Pabali melawan penguasa Bali, yg mengintegrasikan Bali ke pada daerah Singhasari. Tetapi, setelah pemberontakan Gelang-gelang Jayakatwang dalam tahun 1292 yg mengakibatkan kematian Kertanegara dan jatuhnya Singhasari, Jawa nir bisa menegaskan kekuasaan mereka atas Bali, dan sekali lagi penguasa Bali menikmati kemerdekaan mereka berdasarkan Jawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.